Cara Membangun Usaha Pengembangan Jamur Tiram di Desa


Dengan memanfaatkan potensi yg ada di lingkungannya, beragam perjuangan dapat dijalankan serta menghasilkan pendapatan yg lebih dari cukup. Seperti yg dilakukan Mohammad Ridlo, warga  Desa Cigebul, Kecamatan Lumbir, Banyumas.

Desa perbatasan antara Banyumas serta Cilacap ini jauh dari kota namun berkah kerja keras serta ketekunannya Mohammd Ridlo sukses menjadi petani jamur tiram dengan omset di atas Rp. 10 juta setiap bulan. Asal Kalian tahu, dari omset itu hanya perlu kurang lebih 30 persen saja untuk memutar modal. Hebatnya Ridlo, demikian dirinya biasa disapa, hanya mempercayakan beberapa pasar lokal untuk menjual jamurnya setia hari serta rutin ludes.

Awalnya Ridlo tidak berpikir untuk menjadikan jamur tiram sebagai perjuangan yg akan dirinya jadikan mata pencaharian utama. “ Awalnya saya hanya sekedar iseng mencari kegiatan di sela pekerjaan mutlak sebagai jurnalis. Lalu saya berminat berbagi pertanian dengan menanam semangka serta beberapa komoditas semacam cabe,” tutur sarjana Komunikasi ini. Ternyata, keisengannya mengelola jamur tiram dalam skala kecil berbuntut manis. Ternyata kesempatan pasar jamur tipe tiram sangat besar walau di tingkat lokal.

Lalu Ridlo membikin percobaan pembuatan tiram sendiri dengan memakai drum serta memanfaatkan kayu bakar untuk merebus log yg dirinya buat. Serbuk gergaji dirinya dapatkan dari beberapa warga lokal yg mempunyai perjuangan pengolahan kayu. “ Jadi hampir semua bahan pembuatan jamur tiram sebetulnya ada di kawasan pedesaan. Jadi saya pilih menekuni perjuangan ini,” katanya.

Benar saja, dalam beberapa bulan, seusai beberapa kali percobaan pembuatan, jamur-jamur-nya mulai tumbuh serta dapat dipanen setiap hari. “ Setelah yakin dapat membikin log yg menumbuhan jamur, saya memutuskan mengelola perjuangan produksi jamur tiram dengan cara lebih besar serta serius,” katanya. Tapi sesungguhnya, modal terbesar untuk perjuangan ini malah bukan pada bahan pembuatan jamurnya melainkan pada tempat yg  diperlukan untuk meletakkan ribuan log yg telah siap tumbuh. “ Saya membangun beberapa bangunan semi permanen untuk bikin sangkar jamur,” katanya.

Karena jamur merupakan tipe mahkluk nasib jadi Kalian tidak dapat memastikan jamur Kalian tumbuh setiap hari. Maka satu-satunya tutorial supaya memperoleh volume produksi yg tinggi merupakan membikin log atau media pertumbuhan jamur sebanyak mungkin jadi probabilitas pertumbuhannya juga terus tinggi. Tak tanggung-tanggung, apabila awalnya memakai satu drum saja dalam sekali pembuatan, dikala ini Ridlo memakai tiga drum yg disatukan menjadi satu wadah besar untuk merebus jamurnya jadi sekali pembuatan dapat memperoleh 500-an baglog jamur tiram. Pembuatan ini dilakukannya sekali dalam sepekan. Sehingga dalam sebula rata-rata Ridlo membikin minimal 2000-an baglog baru sebagai media tumbuhnya jamur.

Hasilnya, Ridlo dapat memanen rata-rata 40-50 kilogram jamur setiap hari dengan harga kurang lebih Rp. 9 – 11 ribu rupiah untuk setiap kilo jamur yg dirinya jual. Uniknya urusan ekonomi ini, jamur yg dipetik pada dikala subuh akan telah terjual pada pagi hari jadi petani jamur ini telah mengantungi uang penjualan jamur hanya beberapa jam seusai panen dilakukan. Tak tidak sedikit komoditas yg dapat melakukan faktor semacam ini. Tak hanya menghasilkan uang, melewati perjuangan ini Rido juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi beberapa tetangga di kurang lebih tempat tinggalnya yg dirinya ajak mengelola pertanian jamurnya.
Advertisement

Klik Untuk Komentar