Tips Agar Anak Muda Desa Bisa Jadi Pemasar Yang Handal


Salahsatu faktor yg membikin perusahaan-perusahaan swasta dapat bergerak cepat membangun jaringan urusan ekonomi atau perjuangan merupakan sebab mereka memanfaatkan tenologi terutama teknologi digital dalam memasarkan produknya. Misalnya, mempromosikan produk melewati jaringan Facebook, WhatApps, situs serta sebagainya. Cara itu membikin mereka dengan cepat dapat mengembangkan pesan-pesannya dalam jangkauan yg luas.Selain cepat serta menjangkau tidak sedikit orang-orang dengan kuat, teknologi digital juga sangat irit dibanding taktik pemasaran lainnya.

Maka, seharusnya tutorial ini juga dilakukan warga pedesaan untuk menjual beberapa produknya. Termasuk produk yg ada di BUMDesMart. Soalnya, tidak kenal jadi tidak sayang merupakan tahap paling dasar bagi setiap perjuangan memperoleh pembeli produk atau pemakai jasa. Logikanya, bagaimana dapat setiap orang-orang tahu apa saja yg dipasarkan BUMDeMart apabila tidak ada yg mengumumkan pada semua orang? Maka sangat penting mengembangkan sistem marketing melewati media sosial. Misalnya, ‘Hari ini Minyak Goreng merek A Diskon 15 persen di BUMDesMart’. Jangan salah, bagi para ibu, selisih harga Rp. 300 saja telah akan membikin mereka berbondong-bondong ke suatu toko.

Nah, alat yg paling cocok mengumumkan hal-hal semacam ini merupakan melewati media umum atau SMS. Hanya dengan beberapa menit mengetik kalimat lalu dikirim ke jaringan grup. Seketika itu pula pesan meyebar ke ratusan bahkan ribuan orang. Bayangkan! Apa hubungannya dengan anak belia desa? Karena hampir semua anak belia jaman kini ini mempunyai device ber-internet yg dapat melakukan itu. Sementara para orang-orang tua di pedesaan, hampir tentu sebagian besar gaptek atau gagap teknologi.

Contoh nyata bagaimana naak belia serta media umum sukses menciptakan kesejahteraa sosial sangat terasa di desa-desa wisata di Yogyakarta. Banyak kawasan wisata di desa-desa di Kota Budaya ini menjadi ramai didatangi orang-orang seusai beberapa gambar kawasan itu menyebar di media umum anak-anak muda. Para pemuda itu hanya berbekal Smartphone serta hanya dengan mengirim gambar ke jaringan temannya saja kemudian terjadi penyebaran berantai tentang foto-foto eksotik kawasan wisata di desa mereka. Hasilnya, dalam beberapa bulan saja tempat-tempat wisata itu menjadi primadona.

Dalam konteks BUMDesMart anak-anak belia desa sebetulnya dapat menjualan beberapa produk di desanya bukan hanya pada warga desa namun juga menjual produk-produk desanya ke pasar yg lebih luas di luar desa. Misalnya, menjual kerajinan khas desa ke pasar yg luas. Atau menjual makanan khas desa yg dapat dikirim serta kuat bersi kukuh beberapa hari. Seperti yg dilakukan anak-anak belia Jepara dalam menjual produk mebel ukir orisinil buatan tangan warga daerahnya.
Advertisement

Klik Untuk Komentar